Khutbah Idul Fitri

Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah

Khatib: Syekh Dr. Usamah Khayyath • 1 Syawal 1447 H

Makna Idul Fitri • Syukur • Silaturahmi • Kepedulian Sosial

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

■ Khutbah Pertama

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي مَنَّ عَلَى عِبَادِهِ بِبَهْجَةِ الْعِيدِ، وَفَتَحَ لَهُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ الْخَيْرَ الْمَزِيدَ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَهُوَ أَهْلٌ لِلتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ الْمُبْدِئُ الْمُعِيدُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ، بَعَثَهُ اللهُ بِالْهُدَى وَالنُّورِ وَالتَّوْحِيدِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (pembeda) bagimu, menghapus kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang agung.” (QS. Al-Anfal: 29)

Ayyuhal muslimun — Semoga Allah memberkahi kami dan kalian semua di hari raya yang penuh kebahagiaan ini. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mengembalikan hari raya ini kepada kita dengan kebaikan, keberkahan, dan keselamatan.

Nikmat Allah: Waktu-Waktu Istimewa bagi Umat

Wahai hamba-hamba Allah, di antara nikmat Allah yang melimpah dan karunia-Nya yang beruntun adalah bahwa Dia telah menjadikan bagi umat ini waktu-waktu yang melampaui sejenisnya dan unggul dibandingkan yang semisal — waktu yang Dia istimewakan dengan keamanan, hari raya, dan momen-momen yang diramaikan oleh dzikir kepada Allah dan tauhid kepada-Nya, yang dipenuhi kegembiraan, kebahagiaan, dan kesenangan, serta dinaungi oleh kebersamaan dan kasih sayang.

Sesungguhnya hari raya dalam Islam memiliki kekhasan yang unik dan keistimewaan yang mulia — yakni hari raya yang selalu terhubung dengan ibadah yang tulus kepada Allah Rabb semesta alam. Hari raya tidak datang kecuali setelah para pencinta Allah tekun beribadah kepada-Nya dan para ahli khusyu’ telah menghadapkan diri dalam ketaatan. Maka hari raya mereka hadir sebagai penyempurna ibadah, penutup amal, dan kabar gembira akan sebaik-baik tempat kembali.

Kaum muslimin memulai hari raya mereka dengan shalat Id, lalu sepanjang sisa harinya mereka berputar antara kebaikan dan ihsan, silaturahmi dan pemberian — mengunjungi kerabat, menemui orang-orang terkasih, berderma kepada orang miskin, menghibur orang yang susah dan fakir. Mereka berpindah dari satu ketaatan kepada ketaatan yang lain. Betapa agungnya hari raya kaum muslimin!

Makna-Makna Indah Idul Fitri

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya hari raya membawa kegembiraan dan kesegaran bagi jiwa. Di antara makna utama yang menggerakkan jiwa untuk bersuka cita adalah rasa syukur kepada Allah Rabb semesta alam atas petunjuk-Nya kepada hamba-hamba-Nya menuju agama-Nya yang lurus, atas taufik-Nya kepada mereka untuk berdzikir, bersyukur, dan beribadah dengan sebaik-baiknya di musim-musim ketaatan.

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“…agar kamu mencukupkan bilangannya dan agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, serta agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Hari raya juga bermakna kesenangan dan kegembiraan atas berakhirnya musim ketaatan, di mana para hamba telah berlomba-lomba dalam berbagai amal shalih yang kekal abadi. Dalam hari raya terhimpun antara ibadah dan keindahan dalam seluruh amal — karena menyempurnakan nikmat puasa mendorong kegembiraan, dan tanda kegembiraan adalah menampakkan keindahan. Sekaligus mendorong rasa syukur, dan tanda syukur adalah menampakkan ibadah.

Layak bagi siapa yang mengenakan pakaian baru di hari ini untuk juga mengenakan pakaian yang tidak pernah lusuh dan tidak pernah layu kecantikannya — yaitu libas at-taqwa (pakaian takwa) yang Allah isyaratkan dalam firman-Nya: “Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. (QS. Al-A’raf: 26)

Hari raya juga bermakna memberikan ketenangan bagi jiwa dan meraih kesenangan serta kenikmatan di dalamnya. Sesungguhnya jiwa itu bisa merasa bosan sebagaimana badan merasa lelah. Maka adalah bagian dari rahmat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang bahwa Dia menjadikan hari raya sebagai keleluasaan bagi jiwa dan istirahat bagi ruh — dengan apa yang halal dan indah, jauh dari apa yang haram dan buruk. Di dalamnya terdapat keseimbangan sempurna antara hak badan dan ruh serta kemaslahatan agama dan dunia.

Hari raya juga bermakna saling memaafkan, rekonsiliasi hati, dan kebersihan dada. Hari raya adalah musim agung untuk memaafkan dan mengampuni, ruang luas untuk toleransi, dan arena yang lapang untuk meninggikan diri dari dendam kesumat. Sesungguhnya manusia yang paling bahagia dengan hari raya dan paling besar memperoleh kegembiraannya adalah siapa yang menyambut hari raya dengan hati yang bersih terhadap kerabat, saudara, kenalan, tetangga, dan seluruh kaum muslimin. Karena ketentraman jiwa dan lapangnya dada adalah bagian dari kenikmatan maknawi.

Hari raya juga bermakna berkumpulnya kaum muslimin dalam suasana yang meriah dalam satu keadaan dan satu gambaran — mereka menunaikan satu shalat dan memanjatkan satu doa. Maka ketika bentuk dan amal mereka berpadu, berpadu pula hati, kehendak, dan tujuan mereka, sehingga mereka menjadi sebagaimana yang Allah kehendaki:

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

“Dan sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (QS. Al-Mu’minun: 52)

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, dan bergembirahlah dengan hari raya yang penuh kebahagiaan ini. Kegembiraan yang menyeluruh di hari raya tidak terbatas pada segolongan masyarakat saja. Ketika matahari hari raya bersinar, kegembiraan itu bersifat umum dan menyeluruh — dirasakan bersama oleh yang kaya dan yang miskin, yang berkelapangan dan yang kekurangan, yang tua dan yang muda, laki-laki dan perempuan.

نَفَعَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ بِهَدْيِ كِتَابِهِ وَبِسُنَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الْجَلِيلَ لِي وَلَكُمْ وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

✦ ✦ ✦

■ Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلّٰهِ مُعِيدِ الْجَمْعِ وَالْأَعْيَادِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمٍ يُؤْذِنُ شُكْرُهَا بِالِازْدِيَادِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَافِعُ السَّبْعِ الشِّدَادِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ.

Silaturahmi dan Kepedulian terhadap Sesama

Wahai hamba-hamba Allah, di antara makna-makna indah hari raya yang patut diperhatikan adalah menyambung silaturahmi, menghangatkan hubungan dengan keluarga dan saudara, serta mengulurkan tangan persaudaraan kepada kerabat, sahabat, dan tetangga — dalam keadaan yang mencerminkan kesempurnaan kerukunan dan keindahan kasih sayang.

Yang mendorong mereka kepada hal itu adalah membalas nikmat dengan kegembiraan dan menyambut karunia dengan rasa syukur. Di antara wujud syukur yang paling agung atas nikmat hari raya ini adalah saling menyeru kepada persatuan, keakraban, dan saling mengenal; serta meninggalkan permusuhan dan perpecahan.

Mengikutsertakan Kaum Fakir dalam Kegembiraan Hari Raya

Di antara makna-makna hari raya yang mulia juga adalah belas kasihan hati kepada kaum fakir — menghibur mereka di hari raya dan menghindarkan mereka dari keharusan meminta-minta di hari bahagia ini, hingga kegembiraan hari raya terampas dari mereka dan indahnya sinar suka cita menjadi layu bagi mereka.

Maka dengan berbuat ihsan kepada mereka, kita mengikutsertakan mereka dalam kegembiraan hari raya — sehingga rasa suka cita di hari raya menjadi merata di antara seluruh kaum muslimin, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

فَرَضَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ، مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ، وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ

“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan perkataan kotor, serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat Id, maka itu adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat Id, maka itu hanyalah sedekah biasa.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba-hamba Allah, dan ingatlah bahwa hari raya adalah musim kegembiraan dan kesenangan. Kegembiraan dan kesenangan orang-orang beriman di dunia hanyalah bersama Maulanya — ketika mereka berhasil menyempurnakan ketaatan kepada-Nya dan meraih pahala amal-amal mereka dengan keyakinan mereka akan janji-Nya bagi mereka dengan keutamaan dan rahmat-Nya.

قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian atasnya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

▶ Doa Penutup Khutbah

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الأَرْبَعَةِ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الآلِ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِ الْمُسْلِمِينَ، وَوَحِّدْ صُفُوفَهُمْ، وَأَصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا.

اللَّهُمَّ احْفَظِ الْمَسْجِدَ الأَقْصَى، اللَّهُمَّ حَرِّرِ الْمَسْجِدَ الأَقْصَى، اللَّهُمَّ احْفَظِ الْمُسْلِمِينَ فِي فِلَسْطِينَ، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ مُعِينًا وَظَهِيرًا وَمُؤَيِّدًا وَنَصِيرًا.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَارْحَمْ مَوْتَانَا وَبَلِّغْنَا فِيمَا يُرْضِيكَ آمَالَنَا، وَاخْتِمْ بِالْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ أَعْمَالَنَا.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

📑 Terjemahan Ringkas Doa:

Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin, satukanlah hati dan barisan mereka. Ya Allah, jadikanlah negeri ini aman dan tenteram, beserta seluruh negeri-negeri kaum muslimin. Ya Allah, jagalah Masjidil Aqsha, bebaskanlah ia, dan lindungilah kaum muslimin di Palestina. Ya Allah, perbaikilah agama kami, dunia kami, dan akhirat kami. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan kebaikan bagi kami dan kematian sebagai istirahat dari segala keburukan. Ya Allah, sembuhkanlah orang-orang sakit di antara kami, rahmatilah orang-orang yang telah meninggal, dan akhirilah amal kami dengan amal-amal shalih yang kekal. Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُولِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

📌 Khutbah Idul Fitri — Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah

Khatib: Syekh Dr. Usamah Khayyath • 1 Syawal 1447 H • Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia

Tema: Makna Idul Fitri • Syukur • Silaturahmi • Zakat Fitrah • Kepedulian Sosial