Khutbah Jum’at
Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah
1 Syawal 1447 H
Hakikat Kegembiraan • Syukur • Puasa Syawal • Istiqamah
■ Khutbah Pertama
Amma ba’du — Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah, syukurilah apa yang telah Dia muliakan kepada kalian, dan bergembiralah dengan apa yang Dia khususkan bagi kalian. Karena sesungguhnya kegembiraan adalah ibadah yang dengannya seorang hamba mendekatkan diri kepada Rabb dan Maulanya.
Kegembiraan adalah Fitrah Manusia & Sifat Allah Yang Maha Mulia
Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah tabaaraka wa ta’aala telah menjadikan manusia secara fitrah bergembira dengan nikmat yang menimpanya dan kebaikan yang menyertainya — baik itu berupa nikmat dunia sebagaimana firman-Nya:
“Dan apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat, mereka bergembira dengan rahmat itu.” (QS. Ar-Rum: 36)
Maupun berupa kenikmatan akhirat sebagaimana firman-Nya:
“Mereka bergembira dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya.” (QS. Ali Imran: 170)
Bahkan kegembiraan adalah sifat kesempurnaan dan termasuk sifat-sifat Allah yang berkaitan dengan kehendak dan iradat-Nya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Allah lebih bergembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada salah seorang dari kalian yang berada di atas kendaraannya di padang luas lalu kendaraan itu lepas darinya dan membawa bekal makanan dan minumannya… kemudian ia menemukannya kembali, lalu berkata karena sangat gembira: ‘Ya Allah, Engkau adalah hamba-Ku dan aku adalah Rabb-Mu’ — ia salah ucap karena sangat gembira.” (HR. Muslim)
Jika demikian kegembiraan Allah atas taubat hamba-Nya dari kemaksiatan — maka bagaimana pula kegembiraan-Nya atas pelaksanaan ibadah dan ketaatan hamba?
Dua Jenis Kegembiraan: Terpuji dan Tercela
Kegembiraan itu terbagi menjadi dua, wahai hamba-hamba Allah:
Pertama — Kegembiraan yang Terpuji: yaitu kegembiraan yang dicari, dicintai, dan diinginkan. Itulah kegembiraan syukur, ketundukan, kerendahan hati, dan rasa terima kasih atas apa yang Allah muliakan dan anugerahkan kepada hamba-Nya dari kebaikan dunia dan akhirat.
Kedua — Kegembiraan yang Tercela: yaitu kegembiraan yang dibenci, ditolak, dan dimurkai. Itulah kegembiraan kesombongan, kecongkakan, kebanggaan diri, dan kegembiraan atas kemaksiatan kepada Allah — na’udzu billah. Allah berfirman:
“Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu bergembira dengan duduknya mereka (di belakang) Rasulullah dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah.” (QS. At-Taubah: 81)
Kegembiraan Terpuji: Bergembira dengan Al-Qur’an dan Hidayah
Di antara kegembiraan yang paling terpuji adalah kegembiraan hati bersama Allah — dengan mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan membaca kalam-Nya. Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka, mereka bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu.” (QS. Ar-Ra’d: 36)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Jika Ahli Kitab bergembira dengan wahyu, maka para wali Allah dan pengikut Rasul-Nya ﷺ lebih berhak untuk bergembira.”
Dan firman Allah yang agung:
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Rabb-mu dan penyembuh bagi apa yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.'” (QS. Yunus: 57-58)
Para ulama tafsir menyebutkan: fadhlullah (karunia Allah) dalam ayat ini adalah Islam, dan rahmatullah (rahmat Allah) adalah Al-Qur’an.
Dua Kegembiraan Orang yang Berpuasa
Di antara kegembiraan yang terpuji pula adalah kegembiraan atas terlaksananya ibadah dan sempurnanya ketaatan — di antaranya ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kegembiraan ini termasuk kenikmatan yang disegerakan bagi para hamba di dunia sebelum hari pembalasan, karena ia mengandung taufik, pertolongan, kemudahan, dan petunjuk dari Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah Ta’ala berfirman:
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa — karena puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai… Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan yang ia rasakan: ketika berbuka ia bergembira, dan ketika bertemu Rabb-nya ia bergembira dengan puasanya.” (Muttafaq ‘alaih)
Kegembiraan orang yang berpuasa saat berbuka, wahai hamba-hamba Allah, mencakup dua makna: kegembiraan saat berbuka dari puasa sehari ketika matahari terbenam, dan kegembiraan saat berbuka dari puasa sebulan penuh di awal bulan Syawal — yaitu hari ini.
Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah. Bergembiralah dengan apa yang Allah khususkan bagi kalian berupa terselesaikannya puasa bulan Ramadhan. Bersyukurlah kepada-Nya atas nikmat shalat malam dan tilawah Al-Qur’an. Dan jadilah dari golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
■ Khutbah Kedua
Puncak Kegembiraan: Bergembira Bersama Allah
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Kegembiraan dengan Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, Rasul-Nya ﷺ, sunnah-Nya, dan kalam-Nya adalah murni keimanan, sarinya, dan intinya. Dan ia memiliki ibadah yang luar biasa serta pengaruh dalam hati yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Kebahagiaan hati, kegembiraannya, dan suka citanya bersama Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, kalam-Nya, Rasul-Nya ﷺ, dan perjumpaan dengan-Nya adalah sebaik-baik pemberian bahkan merupakan pemberian yang paling agung. Dan kegembiraan di akhirat bersama Allah dan perjumpaan dengan-Nya adalah sesuai dengan kegembiraan bersama-Nya dan kecintaan kepada-Nya di dunia.”
Syukur dengan Amal: Sambung Ibadah dengan Ibadah
Ketahuilah, semoga Allah merahmati kalian, bahwa di antara bentuk syukur kepada Allah atas taufik dan pertolongan-Nya adalah menyambung ibadah dengan ibadah dan ketaatan dengan ketaatan. Di antaranya adalah menyambung puasa Ramadhan dengan enam hari di bulan Syawal.
Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang masa (setahun penuh).” (HR. Muslim dari Abu Ayyub Al-Anshari)
Barangsiapa yang mampu berpuasa dan mudah baginya, hendaklah ia berpuasa enam hari tersebut kapan saja yang memungkinkan. Adapun bagi yang merasa berat, hendaklah bersegera selagi kehangatan semangat puasa masih ada dan jiwa masih merindukannya.
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian atasnya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
▶ Doa Penutup Khutbah
فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَزِدْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.
اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّ الْمَهْمُومِينَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَنَفِّسْ كَرْبَ الْمَكْرُوبِينَ، وَاقْضِ الدَّيْنَ عَنِ الْمَدِينِينَ، وَاشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَى الْمُسْلِمِينَ.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَأَيِّدْ بِالْحَقِّ وَالتَّوْفِيقِ وَالتَّسْدِيدِ إِمَامَنَا وَوَلِيَّ أَمْرِنَا خَادِمَ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيفَيْنِ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ جُنْدَنَا الْمُرَابِطِينَ عَلَى الْحُدُودِ وَالثُّغُورِ، اللَّهُمَّ احْرُسْهُمْ بِعَيْنِكَ الَّتِي لَا تَنَامُ وَاكْنُفْهُمْ بِكَنَفِكَ الَّذِي لَا يُرَامُ.
اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا الْمُسْتَضْعَفِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ مُؤَيِّدًا وَظَهِيرًا وَمُعِينًا وَنَصِيرًا، اللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ فِي فِلَسْطِينَ عَلَى الصَّهَايِنَةِ الْغَاصِبِينَ، اللَّهُمَّ ابْدِلْ ضَعْفَهُمْ قُوَّةً وَخَوْفَهُمْ أَمْنًا وَبُؤْسَهُمْ سَعَةً وَرَخَاءً.
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ.
اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
📑 Terjemahan Ringkas Doa:
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, lapangkanlah kesedihan orang-orang yang berduka dari kaum muslimin, sembuhkanlah orang-orang yang sakit, dan tunaikanlah utang orang-orang yang berutang. Ya Allah, amankanlah kami di tanah air kami, perbaikilah para pemimpin dan penguasa kami. Ya Allah, jagalah tentara kami yang berjaga di perbatasan dengan penjagaan-Mu yang tidak pernah tidur. Ya Allah, jadilah penolong dan penyokong saudara-saudara kami yang lemah di mana saja mereka berada, dan tolonglah mereka di Palestina. Ya Allah, tanamkanlah kecintaan iman dalam hati kami, dan jauhkanlah kami dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi. Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.
📌 Khutbah Jum’at Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah • Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia
Tanggal: 1 Syawal 1447 H • Tema: Hakikat Kegembiraan dalam Islam • Puasa Enam Hari Syawal
