Khutbah Jum’at – 23 Ramadhan 1447H
Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah
Akhir Ramadhan • Muhasabah • Taubat • Istiqamah
■ Khutbah Pertama
Wahai Hamba-Hamba Allah, Sambut Seruan Rabb-mu
Wahai hamba-hamba Allah, sambutlah seruan Rabb kalian, manfaatkanlah sisa hari-hari bulan kalian, renungkanlah apa yang akan menimpa urusan kalian, dan gantilah setiap keteledoran di hari-hari yang telah tersia-siakan dengan kesungguhan berlipat ganda dalam ketaatan.
Janganlah kalian bermalas-malasan dalam memanfaatkan kesempatan mendekatkan diri kepada Allah yang ada di hadapan kalian. Jangan pula kalian lalai dari meraih keberkahan ini sehingga kalian terhalang darinya.
Ibnu Rajab rahimahullah berkata: “Tatkala sebab-sebab pengampunan begitu banyak di bulan Ramadhan, maka barangsiapa yang melewatkan pengampunan di bulan ini, sungguh ia adalah orang yang paling merugi.”
Keuntungan Terbesar: Pintu Rahmat yang Terbuka
Ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, bahwa di antara keuntungan terbesar dan perolehan yang paling berlimpah adalah apabila Allah membukakan bagi seorang hamba sebuah pintu dari pintu-pintu rahmat-Nya, lalu ia memanfaatkannya dan terus menetap di dalamnya dengan penuh harapan akan pahala dari Rabb-nya.
Sungguh, Nabi ﷺ telah bersaksi bagi sebagian sahabat beliau dengan (balasan) surga dan derajat-derajat yang tinggi, padahal keislaman mereka baru berlangsung beberapa jam saja. Mereka berjihad bersama Rasulullah, lalu terbunuh dan Allah menganugerahkan kepada mereka syahadah (mati syahid) di jalan-Nya.
Di antara kisah tersebut: Datanglah seorang laki-laki yang wajahnya tertutup besi kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku berperang dahulu ataukah aku masuk Islam dahulu?” Beliau menjawab, “Masuk Islamlah dahulu, kemudian berperanglah.” Maka ia pun masuk Islam lalu berperang, kemudian ia terbunuh (syahid). Rasulullah ﷺ lalu bersabda: “Ia beramal sedikit, namun diberi pahala yang banyak.”
Hadits ini menunjukkan bahwa pahala yang besar dapat diperoleh dengan amal yang sedikit — semata karena keutamaan, karunia, kebaikan, dan kemurahan Allah. Laki-laki ini telah beruntung dengan keislamannya, sehingga ia meraih syahadah dan kebaikan yang melimpah di surga-surga kenikmatan.
Hadits ini juga menunjukkan bahwa segala amal bergantung pada akhirnya (al-a’māl bil-khawātim). Barangsiapa yang berbuat buruk di awal usianya kemudian bertaubat dan memperbaiki dirinya di akhir usia — meninggalkan dosa-dosa dan berhenti darinya — maka Allah mengampuni segala yang telah lalu.
Waktu Terus Berlalu, Kematian Selalu Mengintai
Maka perbanyaklah, wahai hamba-hamba Allah, meraih pemberian Rabb kita Yang Maha Mulia. Istiqamahlah di atas agama-Nya yang lurus. Tahanlah diri dari melakukan maksiat dan kesalahan — karena usia ini terus berlalu dengan cepat, dan kematian memutus tali harapan.
Kita mesti bersiap-siap, sebab tidak ada jalan lain selain menjumpai kematian. Dan apa yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan.
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Wahai hamba-hamba Allah, mengapa kalian begitu lalai sementara kalian memiliki akal? Mengapa kalian begitu mengantuk sementara kalian terjaga? Bagaimana kalian melupakan bekal sementara kalian sedang dalam perjalanan? Di manakah orang-orang sebelum kalian? Tidakkah kalian merenungkan? Tidakkah kalian melihat bagaimana kematian menjemput mereka, sehingga mereka tidak mampu berwasiat dan tidak dapat kembali kepada keluarga mereka?”
“Maka semoga Allah merahmati seorang hamba yang membebaskan dirinya dari perbudakan hawa nafsunya, yang memperhatikan nasibnya sebelum kematiannya, yang mengambil bekal dari kekayaannya untuk hari kefakirannya, dan yang menyimpan dari kesehatannya sebagai bekal untuk kuburnya — sebelum berlalu kesempatan pembenahan dengan terjadinya kebinasaan.”
Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Di antara yang kami serukan kepada diri-diri kita juga, wahai hamba-hamba Allah: janganlah berputus asa dari rahmat Allah dan janganlah berputus harapan dari kasih sayang-Nya. Betapapun keadaan seseorang di masa lalunya — dalam kelalaian dan kesibukannya — peluang masih terbuka dan perdagangan dengan Allah masih menguntungkan.
Tidak ada yang perlu dilakukan oleh orang yang telah menyia-nyiakan hak Rabb-nya selain datang dengan penuh penyesalan atas apa yang telah berlalu.
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang berbuat dosa lalu menyesal dan bertaubat, maka ia menyerupai ayahnya (Adam). Dan barangsiapa yang menyerupai ayahnya, tidaklah ia dizalimi.”
Sungguh benar, wahai saudara-saudaraku. Barangsiapa yang menyerupai ayahnya Adam ‘alaihissalam — mengakui dosanya, menyesal, dan berhenti — Allah akan memilihnya dan memberinya petunjuk. Namun barangsiapa yang menyerupai Iblis dengan kesombongan dan terus-menerus dalam kemaksiatannya, maka ia semakin jauh dari Allah dan semakin dibenci-Nya.
Sungguh telah tiba waktunya — dan kita berada di penghujung bulan pengampunan dan pengabsian dosa — untuk segera bertaubat dan tidak menundanya. Sebab barangsiapa yang tidak bertaubat di bulan Ramadhan, kapan lagi ia akan bertaubat? Barangsiapa yang tidak kembali kepada Tuannya di malam-malam mulia ini, kapan lagi ia akan kembali?
Hari terbaik seorang yang bertaubat adalah hari taubatnya. Betapa agungnya kegembiraan seseorang atas kepulangannya. Betapa indahnya kebahagiaannya setelah kepergiannya — ketika ia kembali dengan lurus kepada Tuannya, lalu Allah dengan anugerah-Nya menghapus apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. Dan benarlah firman Rabb semesta alam:
“Mereka itulah orang-orang yang Allah ganti keburukan-keburukan mereka dengan kebaikan-kebaikan.” (QS. Al-Furqan: 70)
Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata: “Bagi orang yang bertaubat ada kebanggaan yang tidak tertandingi oleh kebanggaan apa pun — Allah bergembira dengan taubatnya.”
Seruan Mendesak: Perbaiki Sisa Waktu
Wahai hamba-hamba Allah, ini adalah seruan mendesak bagi setiap orang yang lalai dari apa yang telah berlalu, yang berlebihan terhadap dirinya dengan berbagai kesalahan, dan bagi setiap orang yang merasakan kekurangan — dan kita semua adalah orang yang berkekurangan — agar ia segera memperbaiki sisa waktunya dan memperbaiki apa yang telah ia rusak dari urusannya.
Sebab setiap amal yang kita persembahkan hari ini tersimpan untuk kita dan akan kita jumpai hadir esok hari ketika kita bertemu Rabb kita. Hari-hari adalah perbendaharaan bagi manusia yang penuh dengan apa yang mereka simpan di dalamnya berupa amal-amal baik dan buruk. Pada hari Kiamat, perbendaharaan-perbendaharaan ini dibuka bagi pemiliknya:
- Orang-orang yang bertakwa akan mendapati dalam perbendaharaan mereka kemuliaan dan kehormatan.
- Para pendosa akan mendapati dalam perbendaharaan mereka penyesalan dan kehinaan.
Bulan puasa adalah saksi bagi kita atau atas kita — ia menjadi saksi bagi para pejuang dengan puasa, shalat malam, kebaikan, dan ihsan mereka; dan ia menjadi saksi atas para orang yang lalai dengan kelalaian dan keberpalingan mereka.
Maka bersegeralah, bersegeralah dalam berjuang melawan diri sendiri dan memanfaatkan amal di sisa bulan ini. Semoga dengannya dapat menambal apa yang telah hilang dari umur yang tersia-siakan.
Alangkah ingin aku mengetahui, siapa di antara kita yang usianya akan dipanjangkan dan akan menjumpai Ramadhan tahun depan, dan siapa di antara kita yang akan pergi sebelum ia tiba. Sungguh kami telah melihat orang-orang di antara kita yang meninggal sebelum bulan ini genap, lalu tiba-tiba saja sang penghancur kenikmatan (kematian) menimpanya dan mengubur segala harapan dan impian-impiannya.
Orang yang Paling Beruntung di Bulan Ramadhan
Wahai hamba-hamba Allah, ketahuilah bahwa di antara manusia yang paling besar pahalanya dan paling berlimpah bagiannya adalah orang yang menjumpai Ramadhan, lalu ia berbekal dengan bekal takwa dan iman, memberi manfaat kepada orang lain dengan berbagai bentuk kebaikan dan ihsan, menasehati makhluk, dan mengajak mereka menuju jalan yang haq, bimbingan, dan kembali kepada Rabb para hamba.
Dan kini kita melihat bulan kita telah melipat lengannya, mengisyaratkan perpisahan. Kemahnya telah dilipat, hari-harinya telah berlalu, dan ia pun bersiap untuk pergi — hanya tinggal sedikit lagi.
Orang yang beruntung dan meraih kebaikan di bulan mulia ini adalah orang yang mendapat taufik untuk menyempurnakan dan mengikhlaskan amalnya, serta melakukan muhasabah dan istighfar di penghujungnya. Sebab yang menjadi patokan adalah sempurnanya akhir, bukan kurangnya awal. Dan di antara tanda-tanda diterimanya ibadah adalah seorang hamba termasuk orang-orang yang mengikhlaskan amal untuk Allah dan mereka berbuat baik sementara hati mereka dipenuhi rasa takut kepada Rabb mereka.
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang mereka berikan, sementara hati mereka takut karena mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 60)
Demikianlah keadaan para salafus shalih. Seseorang di antara mereka bersungguh-sungguh menyempurnakan dan menuntaskan amalnya, kemudian setelah itu ia khawatir apakah amalnya diterima dan takut akan penolakannya.
Dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Jadilah kalian orang yang lebih mementingkan diterimanya amal daripada amal itu sendiri.”
Maka jadilah kita, wahai hamba-hamba Allah, orang yang senantiasa menghadirkan dalam hati firman Rabb semesta alam:
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27)
Demikianlah yang saya sampaikan, dan saya memohon ampun kepada Allah untuk saya dan kalian semua.
■ Khutbah Kedua
Usia Ini Terbatas, Jangan Terpedaya Dunia
Wahai hamba-hamba Allah, sebagaimana Ramadhan akan pergi dan berakhir, demikian pula setiap orang di antara kita akan berlalu dan ajalnya akan tiba. Usia-usia itu terbatas, dan hitungan napas pun terhitung.
Sebagian para bijak berkata: “Bagaimana seseorang bisa bergembira dengan dunia, sementara harinya menghancurkan bulannya, bulannya menghancurkan tahunnya, dan tahunnya menghancurkan usianya? Bagaimana ia bisa bergembira dengan dunia, sementara usianya menggiring ia kepada ajalnya, dan hidupnya menggiring ia kepada kematiannya?”
Maka ambillah pelajaran dari itu, wahai hamba-hamba Allah. Betapa agung dan membangunkannya nasehat ini!
Istiqamah di Atas Ibadah Setelah Ramadhan
Wahai kaum muslimin, tetaplah senantiasa di atas perjanjian dengan Rabb kita. Janganlah kita memutuskan ibadah kepada-Nya dan jangan bermalas-malasan dalam ketaatan kepada-Nya, sebagai pengamalan firman Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya yang mulia:
“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).” (QS. Al-Hijr: 99)
Demikian pula kita harus memperbanyak doa kepada Rabb kita agar Ia menetapkan kita di atas iman, mengindahkan pengambilan kita (kematian), mengindahkan penutup hidup kita, menjadikan hari terbaik kita adalah hari terakhir kita, dan menjadikan amal terbaik kita adalah penutupnya.
Amalan di Penghujung Ramadhan dan Menyambut Syawal
Di antara yang kami ingatkan, wahai hamba-hamba Allah, ketika kita berada di ambang bulan Syawal: hendaklah kita senantiasa berkomitmen dengan syariat Rabb Yang Maha Tinggi. Tunaikanlah ibadah-ibadah yang disyariatkan pada waktunya. Di antaranya adalah mengakhiri bulan ini dengan mengeluarkan zakat fitrah — berupa makanan pokok setempat — kepada orang-orang yang berhak menerimanya.
Hari Idul Fitri adalah hari kebahagiaan dan ketaatan, maka janganlah kita jadikan ia hari kesombongan, kemaksiatan, dan penyia-nyiaan. Disunnahkan pada hari itu berbagai adab yang disyariatkan: bertakbir, mandi, mengenakan pakaian terbaik, makan kurma sebelum shalat Id.
Hari ini dan hari-hari sesudahnya diperindah dengan apa yang telah menjadi kebiasaan manusia di dalamnya: mempererat hubungan sosial, memperkuat tali silaturahmi, saling bertukar ucapan selamat, dan saling berkunjung.
Di bulan Syawal pun disunnahkan berpuasa enam hari setelah hari Id kita, sebagaimana sabda Nabi kita ﷺ:
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang masa (setahun penuh).” (HR. Muslim)
Yakni dicatat baginya pahala puasa satu tahun penuh. Maka hendaklah hal ini menjadi kabar gembira bagi pemilik jiwa-jiwa yang suci dan bersih.
Perbanyaklah Shalawat kepada Nabi ﷺ
Ketahuilah, dan rasakan, wahai hamba-hamba Allah, bahwa kalian berada di salah satu hari teragung. Maka perbanyaklah di dalamnya shalat dan salam kepada penghulu sekalian manusia, sebaik-baik orang yang shalat, berpuasa, shalat malam, dan bangkit — Muhammad ﷺ. Sambutlah perintah Rabb kalian dalam Kitab-Nya yang mulia:
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian atasnya dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Doa Penutup Khutbah
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الْكُفْرَ وَالْكَافِرِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَرُدَّ كَيْدَهُمْ فِي نُحُورِهِمْ وَاجْعَلْ تَدْبِيرَهُمْ تَدْمِيرًا عَلَيْهِمْ.
اللَّهُمَّ احْفَظْ هَذِهِ الْبِلَادَ وَأَمِّنْهَا وَاسْتِقْرَارَهَا وَجُنُودَهَا.
اللَّهُمَّ احْفَظْ أُمَّةَ الْإِسْلَامِ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ، وَادْفَعْ عَنْهَا شَرَّ الْأَشْرَارِ وَكَيْدَ الْفُجَّارِ وَشَرَّ طَوَارِقِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ.
اللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَالْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِكَ وَالْمُرَابِطِينَ عَلَى الثُّغُورِ.
اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلِيَّ أَمْرِنَا خَادِمَ الْحَرَمَيْنِ الشَّرِيفَيْنِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.
اللَّهُمَّ كُنْ لِإِخْوَانِنَا فِي فِلَسْطِينَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ، اللَّهُمَّ فَرِّجْ هَمَّهُمْ وَنَفِّسْ كَرْبَهُمْ وَعَافِهِمْ وَاحْفَظْهُمْ وَالْطُفْ بِهِمْ وَاحْقِنْ دِمَاءَهُمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَسُدَّ جَوْعَتَهُمْ وَآمِنْ رَوْعَتَهُمْ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ ﷺ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ.
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ صَامَ وَقَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَمِمَّنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، وَمِمَّنْ هَدَيْتَهُ وَقَبِلْتَهُ وَغَفَرْتَ ذَنْبَهُ وَأَصْلَحْتَ قَلْبَهُ.
اللَّهُمَّ اعْفُ عَنْ تَقْصِيرِنَا وَارْزُقْنَا الِاسْتِقَامَةَ عَلَى شَرْعِكَ وَالثَّبَاتَ عَلَى دِينِكَ وَحُسْنَ الْخِتَامِ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
Terjemahan Ringkas Doa:
Ya Allah, muliakanlah Islam dan kaum muslimin. Ya Allah, jagalah negeri ini beserta keamanan dan tentaranya. Ya Allah, lindungilah umat Islam dari segala keburukan dan fitnah. Ya Allah, tolonglah orang-orang yang lemah, para mujahid di jalan-Mu, dan para penjaga perbatasan. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang berpuasa dan mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan dengan penuh iman dan ihtisab. Ya Allah, ampunilah keteledoran kami dan anugerahkan kepada kami istiqamah di atas syariat-Mu, keteguhan di atas agama-Mu, dan akhir hidup yang baik (husnul khatimah). Ya Allah, ampunilah kami, kedua orang tua kami, dan seluruh orang-orang beriman pada hari ditegakkannya hisab.
Khutbah Jum’at Masjidil Haram, Makkah Al-Mukarramah • Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia
Tema: Memanfaatkan Sisa Ramadhan, Taubat, dan Istiqamah Menuju Syawal
